Beranda / Berita / Kegiatan / BNPT: Bersama Melawan Radikalisme & Terorisme di Dunia Maya

BNPT: Bersama Melawan Radikalisme & Terorisme di Dunia Maya

Minahasa-Antisipasi penyembaran radikalisme dan terorisme di dunia maya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerjasama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Utara menghadirkan Aparatur Kelurahan dan Desa, Bhabinkamtibmas, Babinsa dan Awak Media di Kabupaten Minahasa. Peserta yang berjumlah 95 orang mengikuti Kegiatan Rembuk Aparatur Kelurahan Dan Desa Tentang Literasi Informasi melalui FKPT Sulawesi Utara yang diselenggarakan di Tasik Ria Resort tanggal 08 Agustus 2019.

James Tulangao selaku Ketua FKPT Sulawesi Utara dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sebagai bentuk penggalangan masyarakan dan pemerintah daerah, khususnya Aparatur Kelurahan dan Desa, Bhabinkamtibmas, Babinsa dan Awak Media untuk bersama-sama melawan radikalisme & terorisme di dunia maya.

“Pemerintah dan seluruh komponen masyarakat harus bersinergi dalam mengantisipasi dan pencegahan radikalisme & terorisme. Dalam kegiatan ini kami menghadirkan narasumber ahli guna memberikan pemahaman kepada peserta bahaya dan pola perkembangan radikalisme & terorisme di dunia maya” jelas James.

Turut hadir sebagai narasumber adalah Roedy Widodo (Kasubdit Pemulihan Korban BNPT), Yosep Adi Prasetyo (Mantan Ketua Dewan Pers) dan Narasumber dari Daerah.

Roedy Widodo dalam paparannya menyampaikan perlunya melawan terorisme di dunia maya. Setidaknya Roedy menyampaiakan 7 poin penting terkait langkah-langkah dalam menghalau raadikalisme & terorisme di dunia maya:
1. Melakukan perlawanan narasi (counter narrative) yang disebarkan oleh kelompok radikal teror.
2. Mencegah proses radikalisasi yang terjadi melalui media internet (radikalisasi online).
3. Mencegah konten-konten negatif yang berupa provokasi, penyebaran kebencian, permusuhan, dan ajakan kekerasan yang mengarah pada tindakan teror
4. Membentengi masyarakat dari keterpengaruhan ideologi dan indoktrinasi kelompok teror melalui dunia maya.
5. Meningkatkan pengetahuan masyarakat untuk menolak paham teror (terorisme) melalui kegiatan literasi media.
6. Memperkaya khazanah pengetahuan masyarakat dengan perbandingan informasi yang kredibel dan konten edukatif yang mencerahkan.
7. Menjalin sinergitas seluruh komponen bangsa, khusus para pegiat dunia maya, dalam mencegah penyebaran paham dan ideologi radikal.

“Idealnya pencegahan terorisme di dunia maya bukan menjauhkan internet dari masayarakat, melainkan bagaiamana mengubah dan cara pandang sebagai langkah preventif dalam pencegahan radikalisme dan terorisme terhadap masyarakat dengan edukasi informasi yang benar dan berkualitas” tambah Bupati Minahasa Ir. Roike Roring yang diwakili oleh Kasat. Pol PP Meidy Rengkuan dalam sambutannya.

Yosep Adi Prasetyo Mantan Ketua Dewan Pers juga membeberkan antara perbedaan junalistik dan non jurnalisti kepada seluruh peserta yang hadir. Agar peserta tidak salah dalam menerima dan membagikan informasi. Juga diharapkan agar peran peserta tidak tidak hanya sampai kegiatan ini, melainkan mensosialisasikan apa yang didapat kepada keluarga, tetangga bahkan lingkungan.

“Jurnalistik adalah media konvensional (Telivisi, Radio dan Media Cetak) dan media baru (Streaming dan Online), sedangkan non jurnalistik yaitu media sosial (Blog, Twitter, Facebook, Instagram dan Dark Sosial)” tutup Yosep Adi Prasetyo.

Tentang PMD

Admin situs ini adalah para reporter internal yang tergabung di dalam Pusat Media Damai BNPT (PMD). Seluruh artikel yang terdapat di situs ini dikelola dan dikembangkan oleh PMD.

Baca Juga

Muhammadiyah Siap Bantu BNPT Lindungi NKRI dari Radikalisme dan Ekstremisme

Solo – Muhammadiyah siap membantu Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memerangi penyebaran radikalisme dan ekstremisme. …