Beranda / Berita / Banyak Pelaku Teroris Berasal dari Lampung, Seluruh Komponen Bangsa di Lampung Harus Mewaspadai Penyebaran Paham Radikal Terorisme

Banyak Pelaku Teroris Berasal dari Lampung, Seluruh Komponen Bangsa di Lampung Harus Mewaspadai Penyebaran Paham Radikal Terorisme

Bandar Lampung – Komponen pemerintah baik dari TNI, Polri dan juga pemerrintah daerah yang ada di wilayah provinsi Lampung diminta untuk lebih meningkatkan kewaspadaan dilingkungan sekitarnya terhadap upaya penyebaran paham radikal terorisme. Hal ini seiring dengan telah ditangkapnya beberapa pelaku tindak pidana terorisme oleh aparat Detasemen Khusus (Densu) 88/Anti Teror Polri yang berasal dari Lampung

Hal tersebut dikatakan Direktur Penegakkan Hukum Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (Dirgakkum BNPT), Brigjen Pol. Eddy Hartono, S.Ik, MH, disela-sela acara Rapat Koordinasi (Rakor) Antar Aparat Penegak Hukum dalam Penanganan Tindak Pidana Terorisme di Provinsi Lampung yang diadakan Subdit Hubungan Antar Lembaga Aparat Penegak Hukum pada Direktorat Penegakan Hukum (Ditgakkum) di Kedeputian II bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT.

“Rakor ini kami gelar di Lampung karena berapa tahun ini beberapa pelaku terorisme itu berasal dari Lampung. Contohnya peristiwa pemboman Polres Surakarta di mana pembuatan bom itu di Lampung, kemudian peristiwa bom Sibolga juga berangkat dari Lampung. Sehingga ini menjadi perhatian bagi BNPT untuk dapat memberikan pemahaman kepada aparat hukum di wilayah, termasuk juga TNI,” ujar Dirgakkum BNPT), Brigjen Pol. Eddy Hartono, S.Ik, MH, pada acara yang digelar di Novotel Hotel & Resor, Bandar Lampung, Kamis (18/7/2019).

Lebih lanjut alumni Akpol tahun 1990 ini menjelaskan, sejak tahun 1949 yang kemudian dilanjutkan dengan ditumpasnya DI TII pada tahun 1962 sempat beberapa mantan pelaku DI/TII banyak yang ikut program transmigrasi di wilayah Lampung.

“Tidak hanya itu, antisipasi ancaman ke depan juga bahwa penyebaran paham ini bagian dari pada Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang memang sudah ada sebelumnya di wilayah Lampung. Oleh sebab itu hari ini kita berkumpul besrsama. Mudah-mudahan bisa menjadi perhatian bersama bahwa terorisme ini merupakan kejahatan yang serius.

Dalam kesempatan tersebut Brigjen Eddy Hartono juga menjelaskan, selama ini meski penangkapan pelaku terorisme di lakukan di daerah, yang kemudian penyidikan dilakukan aparat Densus 88 di Jakarta yang selanjutnya berkas perkaranya dilimpahkan ke Kejaksaan Agung dan disidangkan di Jakarta, bukan tidak mungkin kedepannya kasus terorisme ini akan disidangkan di daerah-daerah.

Karena di Kejaksaan sendiri melalui Satgas Tidak Pidana Terorisme dan Lintas Negara sudah ada Kepala Seksi (Kasi) yang membidangi masalah Terorisme yang ada di masing-masing Kejaksaan Provinsi.

“Untuk itu rakor ini juga sebagai sarana sosialisasi dan sharing informasi kepada para peserta yang hadir supaya aparat yang ada di wilayah-wilayah paham dan mengetahui bagaimana perkembangan penanganan terorisme terutama kebijakakan, stretegi dan program nasional penanggulangan terorisme ini bisa dipahami oleh level teknis yang ada di lapangan,” ujar mantan Kadensus 88/AT polri ini .

Dalam kesempatan tersebut mantan Kapolres Hulu Sungai Selatan ini mengatakan, selain menghadirkan aparat penegak hukum seperti Polri melalui Kapolres, Kejaksaan melalui Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari), Pengadilan melalui Ketua Pengadilan Negeri dan juga Kepala Lembaga Pemasyarakat (Kalapas) yang ada di wilayah provinsi Lampung, dalam Rakor ini pihaknya juga menghadirkan dari unsur TNI.

Unsur TNI yang turut dihadirkan dalam rakor tersebut terdiri dari para Komandan Kodim, Komandan Komandan Pangkalan Udara TNI-AD (Lanudad) Pangkalan TNI-AL (Lanal), Komandan Pangkalan Udara TNI-AU (Lanud), Brigade Infanteri 4 Marinir/BS dan para Komandan Batalyon Infanteri yang ada di povinsi Lampung. Tak hanya itu pihak Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kakesbangpol) yang ada di provsi Lampung juga turut dihadirkan dalam rakor tersebut

“Dalam rakor ini kita hadirkan juga dari unsur TNI dan juga juga dari Kesbangpol . Hal ini dikarenakan dalam Undang-Undang No.5 tahun 2018 tentang penanggulangan terorisme juga telah ditekankan bahwa pencegahan tindakan terorisme itu ada tiga hal yaitu Kesiapsiagaan Nasional, Kontra Radikalisasi dan Deradikalisasi, di mana TNI juga diberikan peran dalam rangka penanggulangan terorisme. Sehingga ini menjadi perhatian bagi BNPT untuk dapat memberikan pemahaman kepada aparat di wilayah, termasuk juga TNI,” kata mantan Wakil Kepala Densus 88/AT Polri ini

Dalam konteks Pencegahan ini menurutnya, seluruh komponen bangsa disamping Kementerian/Lembaga (K/L) terkait, masyarakat juga ikut dilibatkan dalam strategi penaggulangan terorisme “Kita ketahui bersama bahwa penyebaran paham-paham radikalsime ini sudah cukup massif, hampir seluruh wilayah ada. Bahkan sampai masuk ke TNI/Polri juga,” katanya..

Oleh sebab penanggulangan terorisme ini menurutnya sudah menjadi tugas bersama seluruh aparat yang ada di wilayah. Karena hal ini juga sering disampaikan Presiden RI, Ir. Joko Widodo dalam amanatnya dalam rapat kerja teknis.

“Yang mana semua pihak di masing-masing wilayah diminta untuk saling membangun kearifan lokal sebagai daya tangkal terhadap penyebaran paham radikalisme ini agar tidak menyebar di masyarakat,” tutur Jenderal berpangkat bintang satu kelahiran Jakarta, 30 Mei 1967 ini.

Demikian juga untuk program deradikalisasi yang dulu menurutnya sebelum disahkannya undang-undang (UU) baru diterapkan hanya kepada napi dan mantan napi terorisme. “Sekaramg dengan telah disahkannya UU yang baru, program deradikalisasi ini ditujukan kepada tersangka, terdakwa, narapidana, mantan narapidana serta keluarga dan kelompok jaringan yang terpapar paham radikalsime tersebut. Jadi lebih luas,” kata mantan Kapolres Hulu Sungai Selatan ini.

Selanjutnya Dirgakkum mengatakan, kedepan kegiatan Rakor antar aparat penegak hukum dalam rangka penaggulangan terorisme akan terus dilaksanakan di berbagai daerah. “Tentunya penyelenggaraan berikutnya berdasarkan dari peta yang sudah merupakan hasil dari analisa, mungkin di tempat-tempat lain yang memang selama ini menjadi tempat dimana banyak pelaku terorisme yang telah dilakukan upaya penangkapan,” ujar mantan penyidik madya IT dan Cyber Crime Unit Dit II Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri ini mengakhiri.

Turut hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut yakni Analis Kebijakan bidang Intelijen Detasemen Khusus (Densus) 88/Anti Teror Polri Brigjen Pol. Ibnu Suhaendra, Direktur Tindak Pidana Terorisme dan Kejahatan Lintas Negara Kejaksaan Agung RI Sugeng Pudjianto, S.H., M.H, Direktur Pembinaan Narapidana Permasyarakatan dan Latihan Kerja Produksi pada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Dir Ditjen PAS), Junaedi, Bc.IP, SH, MH dan mantan pelaku terorisme Sofyan Tsauri.

Selain dihadiri dari unsur TNI yang terdiri dari Komandan Wilayah, Komandan Satuan baik dari TNI-AD, TNI-AL, TNI-AU yang berada di wilayah provinsi Lampung. Rakor ini juga dihadiri para Kapolres, jajaran staf Polda Lampung, Kepala Kejaksaan Negeri, Hakim Pengadilan Negeri dan Kepala Lapas bersama jajarannya yang ada di wilayah Lampung.

Tentang Noor Irawan

Alumni fakultas Ekonomi jurusan Manajemen dari Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur ini lama meliput kegiatan militer di Indonesia. Saat ini juga ikut tergabung di tim PMD dalam Satgas Pencegahan BNPT

Baca Juga

Pria Toronto yang Mencoba Gabung ISIS Bebas dari Penjara

Ontario – Seorang pria asal Toronto, Kanada, Pamir Hakimzadah yang mencoba bergabung dengan ISIS telah …