Bakesbangpol: Kelompok Merasa Paling Benar Picu Intoleransi

Sidoarjo – Ada tiga hal yang menjadi penyebab terjadinya intoleransi. Pertama, mereka merasa dirinya benar sendiri dan orang lain salah. Kedua, menjalankan agama hanya secara tekstual saja, bukan kontekstual. Hal ini bukan hanya di kelompok muslim saja melainkan juga di penganut agama lain, meskipun yang banyak terlihat dari kelompok muslim.

Ketiga, kurang pas memahami sunnah. Mereka mengidentikkan budaya Arab dengan ajaran Islam.

Hal itu di sampaikan Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Sidoarjo, Dr. Mustain, M.Pd.I, saat membuka acara pelatihan untuk kalangan guru-guru di Sidoarjo yang diselenggarakan di Hotel Royal Trawas, Mojokerto, Rabu siang, 22 Juni 2022.

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian program BrangWetan selama satu tahun yaitu “Cinta Budaya Cinta Tanah Air Tahap Dua” yang berlangsung hingga pertengahan tahun depan.

Selanjutnya Mustain menyampaikan kegelisahannya melihat kondisi masyarakat selama ini, karena kalau ada orang kumpul-kumpul sudah cenderung melakukan unjuk rasa. Ungkapan takbir sekarang ini digunakan untuk menyerang teman sendiri yang dianggap berlawanan. Sudah terjadi pergeseran nilai, sehingga menjurus ke arah intoleransi.

Padahal, kata Mustain, apa yang terjadi di negara-negara Arab sudah sedikit yang stabil, mulai dari Afghanistan, Irak, Syria, Lebanon. Semuanya hancur. Karena mereka tidak mampu menerjemahkan agama dalam wawasan kebangsaan. Akibatnya perang terus. Tidak sempat membangun. Bahkan di antara mereka terusir dari negaranya sendiri. Contohnya Afghanistan.

Karena itu menurut Mustain, peran ulama atau pemuka agama sangat penting bagaimana menempatkan agama secara kontekstual. Dicontohkan, sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, KH.Wahab Chasbullah menciptakan lagu Hubbul Waton Minal Iman, yang kemudian menjadi semacam lagu wajib bagi kalangan Nahdlatul Ulama.

Pesan ini menunjukkan bahwa ulama NU sudah menegaskan bahwa negara ini harus kita amankan. Bahkan, Mustain pernah meminta warga HKBP (Huriah Kristen Batak Protestan) menggubah lagu Hubbul Waton Minal Iman dengan aransemen yang menarik dan dinyanyikan di Pura. Inilah contoh toleransi yang mengedepankan kebangsaan di atas perbedaan agama.

Sebagaimana pesan KH Said Agil Siroj bahwa agama tetap dinomorsatukan tetapi budaya diutamakan. Sehingga semua berjalan dengan baik, tidak akan saling menyalahkan dan saling menjatuhkan.

“Kesemuanya ini harus kita pikirkan agar bangsa ini tidak hancur sebagaimana negara-negara di Timur Tengah, atau seperti Uni Sovyet, sehingga ke depan Indonesia menjadi negara yang Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur (Negeri yang baik dengan Rabb (Tuhan) Yang Maha Pengampun),” pungkasnya.