Beranda / Berita / Australia Evakuasi Delapan Anak Dari Kamp Pengungsian ISIS di Suriah

Australia Evakuasi Delapan Anak Dari Kamp Pengungsian ISIS di Suriah

Canberra – Delapan anak-anak, termasuk enam yang dibawa orangtua mereka dari Australia untuk bergabung dengan kelompok militan ISIS, telah dievakuasi dari sebuah kamp pengungsian di Suriah.

Tiga dari mereka adalah anak militan ISIS asal Australia, Khaled Sharrouf. Pemerintah Australia berhasil mengevakuasi delapan anak ‘ISIS’ tersebut dengan bantuan sejumlah grup relawan.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengonfirmasi kedelapan anak itu telah dibebaskan dari situasi “mengenaskan” di Suriah.

“Fakta bahwa ada sejumlah orangtua yang membawa anak mereka ke zona perang adalah sesuatu yang sangat mengerikan,” kata PM Morrison, dikutip dari laman BBC, Minggu (23/2019).

Ia menyebut keputusan mengevakuasi kedelapan anak itu merupakan hasil pertimbangan mendalam. “Keamanan dan keselamatan warga Australia selalu menjadi pertimbangan utama kami,” tegas PM Morrison.

Baca juga : Kalah dan Terusir Dari Timur Tengah, ISIS Mulai Bidik India

Sebelumnya, PM Morrison pernah berkata bahwa dirinya tidak akan mau mengambil risiko dengan mengevakuasi warga Australia dari kamp-kamp pengungsian di zona perang, termasuk Suriah.

Lima anak Sharrouf dikabarkan dibawa ke Suriah pada 2014 oleh ibu mereka, Tara Nettleton. Nettleton mengikuti suaminya yang telah pergi ke Suriah beberapa bulan sebelumnya.

Sharrouf menjadi dikenal karena mengunggah rangkaian foto dari zona perang. Salah satu foto itu memperlihatkan anaknya, yang memegang senjata api serta sebuah kepala terpenggal.

Dua dari lima anak Sharrouf dikabarkan tewas bersama ayah mereka dalam sebuah serangan udara di dekat Raqqa pada 2017. Sementara Nettleton meninggal akibat penyakit usus buntu pada 2015.

Ibu Nettleton, Karen, terus mendorong pemerintah Australia untuk memulangkan ketiga cucunya yang tersisa. Tiga cucu Karen itu dilaporkan berada di kamp pengungsian sejak kekuasaan ISIS di Suriah berakhir.

Sejumlah analis mengestimasi ada sekitar 40 ribu anak-anak dari 80 negara yang diyakini telah dibawa orangtua mereka untuk bergabung dengan ISIS di Irak dan Suriah antara periode April 2013 hingga Juni 2018.

Tentang HP HP

Baca Juga

TNI, Polri, Aparat Pemerintah, Jangan Lengah Antisipasi Terorisme

Pontianak – Prajurit TNI, Polri, dan aparat pemerintah diminta untuk tetap waspada dan jangan lengah …