Beranda / Berita / Kegiatan / Aparatur Kelurahan/Desa di Bengkulu Diajak Mengenali Empat Ciri Hoaks

Aparatur Kelurahan/Desa di Bengkulu Diajak Mengenali Empat Ciri Hoaks

Bengkulu – Hoaks atau berita bohong dinilai bisa menjadi sarana penyebarluasan paham radikal terorisme. Untuk mencegah tersebarluaskannya paham radikal terorisme, perangkat desa dan kelurahan di Bengkulu diajak untuk mengenali hoaks dan cara mencegahnya.

Demikian yang tergambar di kegiatan Rembuk Aparatur Kelurahan dan Desa tentang Literasi Informasi, yang diinisiasi oleh BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Bengkulu, Kamis (9/5/2019).

“Mungkin bapak dan ibu bertanya, kenapa kami yang dipilih untuk dikenalkan tentang hoaks? Sebagai jawabannya, bapak dan ibu dipilih karena jabatannya, agar bisa menyebarluaskan kembali tentang bahaya hoaks ke masyarakat,” kata Ketua Bidang Media Massa, Hukum, dan Hubungan Masyarakat FKPT Bengkulu, Zacky Antoni.

Wartaan senior di Bengkulu itu lantas menjelaskan ciri-ciri hoaks. Untuk mengenalinya, peserta kegiatan diminta untuk mencermati judul dari berita yang diterimanya.

“Hoaks biasanya menggunakan judul yang provokatif, misalnya dengan langsung menunjuk jari ke pihak tertentu. Sumbernya bisa jadi dari media resmi, tapi judul dan isinya diubah sedemikian provokatif sesuai dengan keinginan pembuatnya,” ungkap Zacky.

Ciri hoaks kedua, lanjut Zacky, dapat dilihat dari alamat situs asal pemberitaan yang disebarluaskan. Dia lantas menukil data dari Dewan Pers tentang jumlah media massa online di Indonesia, yaitu mencapai 43.000 laman. Dari jumlah tersebut, tak lebih dari 300 laman yang dinyatakan terverifikasi. “Hoaks biasanya disebarluaskan melalui situs yang berdomain blog. Karena itu apabila menerima share berita dari sumber yang meragukan, jangan terburu-buru menyebarluaskannya kembali,” tandasnya.

Untuk mengenali hoaks, Zacky selanjutnya menyebut tentang validitas data. Dia sekaligus mendorong para perangkat desa dan kelurahan untuk tak lelah mencari pembanding dari setiap informasi yang diterimanya.

“Perhatikan sumber beritanya. Memang tidak semua, tapi kebanyakan berita dari pegiat Ormas, tokoh politik, atau pengamat layak diragukan validitasnya. Perhatikan keberimbangan beritanya. Jika hanya ada satu sumber pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh,” jelas wartawan Rakyat Bengkulu tersebut.

Ciri terakhir dari hoaks, masih kata Zacky, dapat dikenali dari foto atau video yang menyertainya. Di era kemajuan teknologi saat ini hoaks memang tidak hanya berupa berita atau teks semata, melainkan banyak yang disebarluaskan dalam bentuk audio visual. “Lalu bagaimana mengenali foto atau video palsu? Caranya tidak sulit, karena sekarang sudah ada fasilitas Google Image untuk mengecek keaslian sebuah foto,” pungkasnya.

Di akhir paparannya Zacky mengajak peserta kegiatan untuk selalu mengantisipasi peredaran hoaks di tengah masyarakat. Dalam konteks radikal terorisme, dia mencontohkan isu-isu seputar kerukunan antarumat beragama yang apabila tidak dikelola dengan baik dikhawatirkan dapat memantik permusuhan dan ketidakharmonisan di tengah masyarakat.

“Sebarkan cara-cara mengenali hoaks ini ke masyarakat yang bapak atau ibu pimpin. Mari bersama-sama kita jaga kondusivitas masyarakat, sehingga mampu membentengi dirinya dari pengaruh paham radikal terorisme,” pungkas Zacky. [shk/shk]

Tentang PMD

Admin situs ini adalah para reporter internal yang tergabung di dalam Pusat Media Damai BNPT (PMD). Seluruh artikel yang terdapat di situs ini dikelola dan dikembangkan oleh PMD.

Baca Juga

Perangkat Desa di Jatim Diberikan Pemahaman Bahaya Internet dalam Terorisme

Sidoarjo – BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, Selasa (16/7/2019), menggelar kegiatan …