Anak Muda harus jadi motor dalam Menangkal Paham Radikalisme di Media Sosial

Bogor – Generasi muda yang aktif menggunakan media sosial sejatinya juga harus aktif dalam menangkal paham radikalisme dan terorisme melalui media social. Karena bagaimanapun juga persebaran paham radikalisme di dunia maya ini juga sangat tinggi. Dan ketika seseorang memilih untuk mengikuti seorang tokoh, diharapkan memilih tokoh yang tidak radikal dan juga tidak menyebarkan konten-konten yang menebar ujaran kebencian. Sehingga generasi muda bisa menjadi orang yang terus merawat keutuhan NKRI

Hal ini menjadi kesimpulan yang diambil setelah mendapatkan paparan dari Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE, MM, dan Kasubdit Kontra Propaganda BNPT Kolonel Pas. Drs. Sujatmiko saat menjadi narasumber secara daring dalam acara Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN) yang mengambil tema Gerakan Anti Radikalisme bagi mahasiswa baru Universitas Pakuan, Bogor, pada Rabu (15/9/2021)

“Yang menjadi strategi kelompok radikal dalam menghacurkan Indonesia selama ini yakni melalui dunia maya. Pertama mereka berusaha untuk mengaburkan, menghilangkan bahkan menyesatkan sejarah bangsa ini. Kedua, mereka berusaha menghancurkan budaya dan kearifan lokal bangsa Indonesia. Dan yang ketiga kelompok itu berusaha mengadu domba diantara anak bangsa dengan pandangan intoleransi dan isu SARA,” ujar Brigjen Pol R. Ahmad Nurwakhid

Untuk itu Direktur Pencegahan meminta kepada para generasi muda untuk selalu berupaya terbebas dari ancaman tindak terorisme. Hal tersebut tentunya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Cara pertama, yaitu dilakukan secara militan dalam menangkal sebaran hoaks dan Propaganda.

“Tentunya dengan serta merta aktif dalam menyebar konten persatuan dan toleransi terutama di dunia maya dengan cara yang baik dan tidak melanggar hukum, apapun bentuknya. Kalau negara kita yang beragam dan pemerintahan yang sah ini adalah suatu takdir tuhan, kuasa yang ilahi,” ujar alumni Akpol tahun 1989 ini.

Lalu cara yang kedua, dirinya meminta generasi muda untuk me-unfollow ustad atau tokoh yang intoleran dan radikal baik dilingkungan sosial atau di media sosial. Lalu yang ketiga dirinya meminta generasi muda untuk mem-follow ustad atau tokoh yang moderat, bertoleransi tinggi dan cinta perdamaian serta cinta terhadap NKRI dan ideologi bangsa ini yakni Pancasila baik di lingkungan sosial atau media sosial.

“Bangsa ini sudah mempunyai UU penanggulangan teror yakni UU No.5 tahun 2018. Tetapi bangsa kita belum ada peraturan menganai pelarangan terhadap ideologi yang menentang Pancasila, termasuk dengan konsensus nasional. Ideologi yang dilarang selama ini yakni komunisme, maxisme, dan leninisme. Larangannya ada di Tap MPRS No.25 Thn 1966, turunannya ada di UU no.27 thn 1999,” ujarnya.

Dan sampai sekarang ini menurutnya, semenjak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 5 tahun 2018, dimana aparat keamanan sendiri sudah mencegah atau berhasil menangkap sebanyak lebih dari 1.300 orang baik individu maupun dari jaringan kelompok yang akan melakukan aksi teror. Tetapi tidak semua di publish ke masyarakat.

“Saya mau langsung menggambarkan realitas di kampus, supaya adik-adik bisa mewaspadai dan mengenali ciri-cirinya. Dari dulu hingga sekarang yang menyebarkan paham radikal itu adalah HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Walaupun itu sudah dibubarkan organisasinya tetapi secara paham masih menyebar sampai sekarang, dan ini yang harus diwaspadai,” kata mantan Kabagbanops Detasemen Khusus (Densus)88/Anti Teror Polri ini.

Untuk itu perwira tinggi yang pernah menjadi Kapolres Gianyar ini meminta pihak otoritas kampus harus memahami dalam hal mengenali ciri-ciri radikalisme. Dimana ciri-cirinya pertama, kelompok tersebut rata-rata bersikap tertutup dan tidak mau terbuka dengan pandangan lain, terutama bagi kalangan mereka yang beda keyakinan. Yang mana konteksnya adalah agamanya sama tetapi paham yang dianut berbeda.

Kedua, kelompok atau orang tersebut mudah mengkafirkan orang lain. Ketiga, kelompok atau orang tersebut suka menarasikan dalam menegakan hukum agama. Keempat mereka suka menempatkan barat sebagai ideologis-politis sebagai ancaman terhadap kesatuan umat,

“Kelima mereka berusaha untuk mengajak keanggotaannya melaksanakan kajian diskusi secara tertutup, bahkan harus melakukan pembaiatan. Keenam sebagian dari kelompok tersebut bersuaha untuk mengambil dengan cara non-kekerasan, dan sebagian lain mengambil dengan cara kekerasan,” ucap mantan Kapolres Jembrana ini mengakhiri.

Dalam kesempatan tersebut Kasubdit Kontra Propaganda BNPT, Kolonel Pas. Drs Sujatmiko juga berkesempatan memberikan paparannya. Dimana para generasi muda atau mahasiswa dan juga pihak otoritas kampus juga harus harus dapat mengenali berbagai ciri-ciri penyebaran ideologi transnasional yang dapat mengancam keutuhan acaman NKRI.

“Pertama, mereka selalu menyampaikan pendirian mengenai negara, agama, dan romantisme masa lalu seperti negara khilafah dan lain sebagainya. Kedua pesan yang disampaikan yakni suka menjadikan demokrasi dan Pancasila yang bertentangan dengan agama,” ujar Kolonel Pas. Drs. Sujatmiko.

Selain itu ciri yang ketiga yakni kelompok atau orang tersebut mudah menyalahkan orang lain bahkan sampai menyesatkan terhadap orang atau kelompok yang berbeda dalam ritual keagamaannya seperti narasi syirik, sesat, dan lain sebagainya. Kemudian yang, keempat yakni pesan yang disampaikan selalu menyerang nilai kebudayaan dan kearifan lokal yang hidup di Indonesia.

“Kemudian ciri yang kelima yaitu gaya hidup kelompok atau orang tersebut sangat ekslusif, merasa paling benar dan paling baik ketika ditengah masyarakat. Lalu yang keenam mereka ini selalu menyebarkan hasutan kebencian dan fitnah terhadap pimpinan dan lembaga negara. Dan yang ketujuh, dalam kadar ekstrim kelompok ini selalu menyalahkan praktek kenegaraan seperti upacara, hormat bendera, dan lainnya. Itu ciri-ciri yang harus dikenali adik-adik mahasiwa dan pihak kampus,’ ujar mantan Komadan Batalyon Komando 466/Pasopati Paskhas TNI-AU ini.

Lebih lanjut alumni Sepa PK TNI tahun 1995 ini juga menyampaikan, setelah mengenali tujuh ciri penyebaran ideologi transnasional, maka para mahasiswa dan otoritas kampus harus mengetahui juga mengenai level indikator radikal terorisme. Dimana level pertama yakni mereka rajin mencari informasi tentang ideologi dan ajaran. Kemudian, level yang kedua, kelompok atau orang tersebut selalu menarik diri dari masyarakat dan hubungan sebelumnya. Lalu level ketiga, mereka ini berkonflik dengan keluarga dan orang terpercaya.

“Level keempat, mereka ini terlihat sudah merubah diri secara drastis,. Level kelima, mereka ini bergaul intensif dengan komunitas pertemanan radikal. Lalu level keenam, kelompok itu membuat pernyataan publik yang mendukung pandangan dan sikap radikal. Selanjutnya level ketujuh, mereka ini bergabung dalam organisasi radikal dan level yang kedelapan, mereka terlibat dalam persiapan dan perencanaan aksi,” kata perwira menegah kelahiran Magelang ini.

Oleh sebab itu menurut mantan Kepala Dinas Operasi (Kadisops) Lanud Sam Ratulangi Manado ini, BNPT sendiri sudah membuat kriteria untuk web atau akun medsos yang masuk dalam unsur radikalisme dan terorisme yang diatur dalam Perka BNPT No:PERK-33/K.BNPT/10/2014 . Yang pertama penyebaran konten yang berbau paham radikal terorisme, kedua SARA, ketiga menganut paham takfiri (mengkafirkan orang lain), keempat mengajak masyarakat untuk bergabung dengan kelompok radikal terorisme, kelima menyebarkan kekerasan dan kebencian, keenam menebar ancaman-ancaman, dan yang ketujuh yakni penyebaran pemahaman jihad yang sangat terbatas.

“Dengan mengetahui ciri-ciri mengenali bagaimana seseorang terpengaruh paham radikal, langsung masuk ke level yang kritis yaitu level empat hingga level delapan yakni terlibat dalam persiapan dan perencanaan aksi.” ujar pria yang dalam karir militernya dibesarkan dari Satuan Bravo 90/Anti Teror Paskhas ini.

Dan upaya dalam meminimalisirnya yaitu melakukan pendekatan sebagai seorang teman dan mengajak diskusi-diskusi secara terbuka, bisa diskusi secara akademik, didalam hal menyadarkan orang atau teman yang sudah terpapar.

“Fenomena yang menarik, pada tahap yang paling tinggi, arahnya sudah menentang pemerintah sehingga mereka menarik diri dari lingkungan. Kedua mengundang mereka unbtuk melakukan diskusi moderasi moderat, bagaimana beragama yang baik, bagaimana nabi mengajarkan kita berikhtiar,” ujarnya mengakhiri.