WNI Gabung ISIS Lalu Dipenggal, Pemerintah Dinilai Tak Bisa Disalahkan

Jakarta – Seorang WNI dieksekusi oleh kelompok ISIS dengan cara dipenggal kepalanya. Meski sudah bergabung menjadi loyalis ISIS di Suriah, WNI tersebut tetap dibunuh karena dianggap menularkan virus AIDS ke kelompok militan ISIS lewat donor darah.

“Pemerintah Indonesia nggak bisa bantu dia karena dia sudah melepaskan kewarganegaraannya karena sudah bersumpah setia kepada ISIS,” ungkap Pengamat Hukum Internasional Hikmahanto Juwana dalam perbincangan, Rabu (24/6/2015).

Sehingga adalah wajar, kata Hikmahanto, jika pemerintah Indonesia tak dapat berbuat banyak dalam upaya menyelamatkan WNI yang belum diketahui identitasnya itu. Apalagi hukum yang berlaku di wilayah konflik yang dikuasai oleh ISIS di lokasi terbunuhnya WNI tentunya berbeda dengan hukum internasional pada umumnya.

“Jadi kalau nggak bisa menyelamatkan dia, pemerintah nggak bisa disalahkan karena pemerintah memang nggak bisa apa-apa. Yang ikut ISIS sudah bersumpah untuk loyal terhadap pemimpin-pemimpinnya,” kata Hikmahanto.

“Dia harus mengikuti aturan di sana yang berlaku, nggak tahu seperti apa sistemnya. Sulit bagi pemerintah,” sambung guru besar Universitas Indonesia tersebut.

Sebelumnya Dubes RI di Suriah, Djoko Harjanto juga mengakui kesulitan mendapat kabar mengenai apa yang terjadi dengan WNI yang dipenggal itu. Jika berusaha masuk ke wilayah kekuasaan ISIS, maka pemerintah Indonesia dianggap melakukan perundingan dengan kelompok militan itu.

“Kami sulit mengkonfirmasi. Daerah konflik sulit untuk dimasuki. Kalau kami masuk artinya kami membuka perundingan dengan mereka kelompok ISIS,” jelas Djoko.

KBRI berada di Ibukota Suriah di Damaskus. Pihak Kemlu Suriah pun juga menyarankan untuk tidak melakukan perjalanan keluar.
(elz/vid)

sumber : http://news.detik.com/berita/2951568/wni-gabung-isis-lalu-dipenggal-pemerintah-dinilai-tak-bisa-disalahkan